Strategi Bisik Berantai Sejarah Indonesia

0
1416

Sukses dan tidaknya belajar dan pembelajaran dapat diukur ketika indikator kompetensi yang ditargetkan telah tercapai dengan baik. Dalam mencapai indicator pastilah ada faktor-faktor pendukung yang menyukseskan di dalamnya, tetapi faktor utama dalam pembelajaran tidak hanya satu akan tetapi saling berhubungan dan berkesinambungan. Strategi merupakan salah satu faktor dalam belajar dan pembelajaran yang dimana menentukan langkah-langkah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran yang efektif dan inovatif membuat peserta didik lebih termotivasi dan tidak jenuh dengan suasana pembelajaran dalam kelas. Pembelajaran seringkali membosankan karena strategi yang dipakai guru tidaklah menarik dan terkesan monoton. Pelajaran sejarah dianggap pelajaran yang tidak menarik dan membosankan serta sebuah cerita dongeng pengantar tidur di kelas dikarenakan banyaknya materi yang disajikan. Strategi bisik berantai sejarah Indonesia merupakan alternatif. Strategi yang mengajak siswa aktiflah menyenangkan. Dengan ini strategi yang inovatif di harapkan memotivasi minat siswa untuk belajar sejarah dan merubah pola pikir siswa terhadap pelajaran sejarah dari menjemukan menjadi menyenangkan. Kata Kunci : Strategi pembelajaran, minat dan motivasi siwa, bisik berantai

Dalam suatu pembelajaran strategi pembelajaran sangatlah penting untuk menciptakan suasana yang baik bagi peserta didik sehingga memunculkan minat dan motivasi yang lebih baik terhadap pelajaran yang berlangsung. Minat dan motivasi yang tinggi atau rendah terhadap mata pelajaran akan berdampak pada hasil pembelajarannya, karena dari itulah dibutuhkan strategi yang tepat penerapannya. Pembelajaran sejarah seringkali dipandang sebagai pelajaran yang membosankan, tidak bermanfaat, tidak penting dan seakan pelajaran sejarah hanya sebagai pelajaran “pupuk bawang” bagi pelajaran lainnya.

Banyaknya faktor-faktor yang membuat pelajaran sejarah menjadi tidak menarik dan dihindari oleh siswa. Yang pertama, guru selaku pendidik ataupun fasilitator seringkali menggunakan strategi dengan metode yang monoton yaitu ceramah. Hal inilah yang membuat peserta didik bosan, jenuh sehingga ngantuk dan tertidur pulas di dalam kelas. Banyak siswa yang mengeluh dengan metode ceramah yag mengakibatkan siswa pasif dalam pembelajaran berlangsung di kelas. Kedua, stratgei dan model pembelajaran yang monoton dari pertemuan pertama sampai terakhir tentulah membosankan, semestinya aguru haruslah berinovasi dalam belajar dan pembelajaran sehingga tercipta lingkungan belajar yang baik untuk keberlangsungan proses belajar peserta didik. Dengan lingkungan belajar yang baik diharapkan dapat menunjang pembelajaran dan mengatasi penghambat dalam proses pembelajaran itu sendiri. seperti dengan pendapat Ibrahim (1988: 176) yang mengatakan “berbagai masalah pembelajaran dapat diatasi dengan berbagai alternatif metode mengajar”. Pendapat Ibrahim ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh pendidikan yang berada di Amerika tentang pendidikan Amerika yang dijelaskan dalam bukunya, sehinga dapat disimpulkan strategi juga berpengaruh.

Dalam menerapkan inovasi mengajar atau strategi pembelajaran guru haruslah memperhitungkan matang-matang media, alat ajar, dan lainnya yang mampu melayani semua gaya belajar peserta didik. Gaya belajar peserta didik yang berbeda-beda sebagai dasar penentu strategi guru dalam pembelajarannya yang harus menyertakan aspek audio, visual dan kinestetik. Gaya belajar ini juga dikemukakan oleh Deporter & Heraki (2002: 140) yang menyatakan “tidak semuanya orang bisa belajar secara baik visual, auditorial dan kinestetik dikarenakan tidak semua orang imbang dalam menggunakan otak kiri dan kanan”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dominasi otak menentukan cara belajar, tetapi perlu diketahui gaya belajar tidak menentukan dominasi otak kanan ataupun kiri dikarenakan gaya belajar pada dasarnya hanya membutuhkan pembiasaan yang intensif. Mengidentifikasi gaya belajar peserta didik berdasarkan otak kanan dan kiri pastilah sulit dengan jumlah dalam kelas yang banyak, tetapi menurut Jansen (2011: 25) bahwasannya “sisi kiri memproses bagian-bagian, bahasa dan itu dilakukan secara runtut, sedangkan sisi kanan memproses keseluruhan informasi spasial dan itu dilakukan secara acak”

Ketiga, cara belajar siswa yang salah, siswa tidak mampu belajar dengan maksimal karena tidak mengerti model belajar yang pas untuk dirinya. Seperti yang disinggung pada fator kedua yaitu model belajar siswa bermacam-macam. Keempat adalah orang tua dan lingkungan. Faktor ini sering dilupakan dan tidak dianggap penting tetapi sebenarnya faktor ini penting bagi psikologis anak dalam kehidupan khususnya pada saat belajar. faktor terakhir adalah materi atau pelajaran sejarah itu sendiri. pelajaran sejarah sangatlah banyak yakni dari awal yaitu prasejarah sampai kontemporeryang mana membuat siswa kesulitan menangkap mmateri pelajaran yang berakhir pada rendahnya motivasi dan minat terhadap mata pelajaran sejarah. Dari faktor tersebut maka penulis ingin mengembangkan strategi bisik berantai sejarah Indonesia (SERASI) sebagai alternatif  strategi pembelajaran sejarah.

Dalam membuat strategi pembelajaran tentulah berangkat dari teori belajar, gaya belajar dan mungkin mengadopsi serta kolaborasi dari strategi lain dengan tujuan menyempurnakan strategi pembelajaran yang efektif. Teori-teori yang digunakan untuk memperkuat strategi ini antara lain adalah:
1.    Teori Gagne
Robert Gagne memperkenalkan teori yang mengenai pemrosesan informasi yang merupakan teori kognitif. Dimana teori ini menjelaskan  “bagaimana informasi diterima, disimpan dan diambil kembali dari otak” (Sani, 2013: 16). Hal ini menunjukkan proses informasi dalam melakukan pemmbelajaran sagat vital. Dalam alternatif strategi pembelajaran teori Gagne sebagai dasar pengembangan strategi SERASI.
2.    Gaya belajar VAK
Dalam belajar siswa tentulah berbeda. gaya belajar siswa bukan sebagai penghalang guru dalam menyampaikan dan mengatur suasana di kelas, tetapi diharapkan memotivasi guru untuk menginovasi strategi alternative pembelajaran gaya belajar siswa dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
a.    Visual
Gaya belajar visual belajar yang menekankan pada penglihatan
b.     Auditorial
Gaya belajar yang menenkankan pada pendengaran
c.    Kinestetik
Gaya belajar yang melibatkan kontak fisik.
3.    Teori Investigasi Kelompok
Dikembangkan oleh John Dewey, Herbert Thelen, Shlomo Sharan, Rachel Herl dan Lazarowitz. Teori ini pada dasarnya adalah untuk mengembangkan ketrampilan berpartisipasi dalam proses demokratis. Pembelajaran juga focus pada perkembangan sosial, ketrampilan akademik, pemahaman dan kemampuan inkuiri.
4.    Pembelajaran Kooperatif
Metode pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori psikologis sosial untuk meningkatkan kompetensi peserta didik dalam berinteraksi dengan orang lain. Metode pembelajaran kooperatif ini dapat dikombinasikan dengan metode lainnya untuk berbagai tujuan pembelajaran.

Stratergi Pembelajaran Alternatif Sejarah (SERASI)
Strategi dalam pembelajaran yang menarik pastilah membuat suasana pembelajaran yang nyaman untuk belajar. strategi alternatif pembelajaran sejarah. Strategi ini mengambil dari permainan anak-anak pada umumnya yang dimainkan berkemlompok yang lebih dari satu orang. Permainan ini sering disebut permainan tradisional dan permainan ini juga sering digunakan pada kegiatan pramuka. Permainan ini diadopsi utuk pembelajaran dan di inovasi sehingga memnuhi sebagai strategi pembelajaran sejarah yang menraik. Dalam strategi ini memuat 3 gaya belajar yang berbeda –beda yakni visual, auditorial dan kinestetik.

Dalam metode serasi ini gaya belajar berdasarkan visual terlihat atau termuat ketika siswa atau perwakilan kelompok melihat materi atau kata kunci yang diberikan guru kepada siswa tersebut. Ciri dari gaya belajar visual terlihat dari ketelitian siswa dalam melihat. Kedua adalah auditorial dimana gaya blajar ini tercermin pada saat siswa melaksanakan bisik an kepada teman kelompoknya untuk menyampaikan informasi. Ciri dari gaya belajar auditorial adalah suka mendengar, peka dengan suara dan berbicara keras untuk mendengarnya kembali.

Yang terakhir gaya belajar kinestetik dimana saat berinteraksi siswa melibatkan fisik di dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Contoh ketika memberikan kode kepada temannya dengan gerakan fisik. Ciri gaya belajar kinestetik adalah suka bergerak saat belajar atau tidak bisa diam tenang.

Dalam pembelajaran ini juga mengambil sebagian dari strategi pembelajaran simulasi, dimana hal ini terlihat ketika siswa melakukan simulasi sebagai stimulus dan penyampai informasi kepada anggota lain. Dalam strategi simulasi tersebut akan melalui berbagai hal antara lainnya “tahapan mengalami, menyatakan, mengerti dan memastikan” (Ismain, 1991: 60).
Dalam strategi serasi ini mengusahakan melaani 3 cara gaya belajar yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, serta diharapkan peserta didik termotivasi dan merasa senang dalam proses belajar dan pembelajaran. Menurut para ahli dalam strategi pembelajaran yang inovatif tetap melihat aspek-aspeknya di dalam menyusun strategi. 3 gaya belajar menurut Deporter & Heraki (2004: 116-118) ciri-ciri visual salah satunya teliti terhadap yang detail, auditorial suka berbicara dan kinestetik berorietasi pada fisik dan banyak gerak”. Hal ini harus diperhatikan pendidik untuk  membuat strategi  yang efisien.

Adapun langkah-langkah untuk melakukan strategi SERASI ini antara lain adalah:
1.    Guru menyiapkan materi yang akan dibahas. Pemateri harus di pertimbangkan
2.    Menyiapkan pembagian kelompok. Contoh 30 peserta didik dibagi 3 kelompok dengan masing-masing terdiri 10 orang
3.    Semua anggota kelompok berbaris dengan rapi. Berbaris dengan rapi diperlukan dan anggota lain menghadap ke belakang, dan diperbolehkan melihat ke depan ketika disentuh pundaknya
4.    Siswa perwakilan maju melihat stimulus guru
5.    Siswa atau kelompok lain sebagai juri untuk melihat kejujuran dari kelompok yang sedang melakukan bisik berantainya
6.    Siswa pertama membisikkan kode yang di beri guru kepada teman yang berada di belakangnya
7.    Informasi kemudian disampaikan secara berurutan secara bisik berantai
8.    Siswa terakhir bisa menyebutkan kata kunci dengan menjelaskan ataupun mensimulasikan jika perlu (sesuai materi).

Hal ini bisa dimodifikasi oleh guru untuk tidak membosankan peserta didik dengan merubah sedikit cara bermain. Bisik berantai pada intinya informasi bisa dikembangkan dengan sambung kata atau kata berantai. Guru memberi kata kunci kepada siswa pertama yang ditunjuk acak. Contoh “Soekarno” maka siswa yang bertindak sebagai pemimpin menyambung dengan kata lain misalnya disambung dengan “Bapak Proklamasi” siswa ketiga “terkenal dengan orasi ulung” dan seterusnya sampai siswa terakhir tidak bisa menjawab dan guru meminta siswa itu menjelaskan dan menyampaikan hasil sambung kata atau kata berantai. Hal ini dilakukan di sela-sela pelajaran ataupun akhir pelajaran dan bisa sebagai tolak ukur evaluasi dalam pembelajaran.

Kelebihan
1.    Aktifitas yang menyenangkan bagi siswa, sehingga menarik minat dan motivasi siswa untuk belajar khususnya mata pelajaran sejarah
2.    Mendorong guru dan siswa aktif di dlamnya
3.    Mengurangi segi-segi abstrak, sebab meskipun mengenai abstraksi tetapi dilaksanakan dengan bentuk ynag berbeda
4.    Memungkinkan memunculkan respon yang positif dari siswa yang terlibat di dalamnya sehingga lebih nyaman
5.    Mendorong siswa berfikir di dalam aktivitasnya
6.    Membuat sifat jujur di dalam aktivitasnya
7.    Merangsang berbgai variasi belajar dengan gaya visual auditorial dan kinestetik

Kekurangan
1.    Waktu harus banyak dan materi tidak banyak abstraknya apabila banyak maka kurang efektif
2.    Membutuhkan banyak ide dan hal yang baru sedangkan materi dan tujuan harus terpenuhi
3.    Suasana gaduh apabila tidak bisa dikendalikan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY