Sejarah Salak Wedi Bojonegoro

0
829

Desa Wedi Kecamatan Kapas merupakan desa yang memiliki perkebuanan salak yang terluas di Bojonegoro. Hampir 30 % luas tanah desa merupakan perkebunan salak. Di sepanjang jalan desa, setiap gang-gang dapat kita jumpai perkebunan salak. Hampir di setiap lahan yang tidak digunakan untuk bangunan ditumbuhi pohon salak. Tidak hayal jika Desa Wedi dijuluki sebagai kota salak (salak city).

Banyak desa sekitar wedi yang masih memiliki kebun salak. Seperti Desa Kalianyar, Tanjungharjo, Tapelan, Bangilan, dan Ngumpakdalem, namun luas perkebunannya tidak seluas di Wedi. Dari sekian desa yang menghasilkan salak kebanyakan jika ditanya asal salak yang dipanen menyebutkan bahwa salak tersebut adalah salak wedi atau pun salak yang berasal dari Wedi.

Jadi salak wedi bukanlah satu jenis salak yaitu jenis salak pasir (wedi-dalam Bahasa Jawa), namun sebenarnya kata Wedi itu adalah asal buah salak tersebut dari Desa Wedi. namun karena nama tersebut sudah melekat maka ada juga yang mengatakan salak wedi adalak satu jenis dari buah salak.

Penyebutan salak Wedi pastilah bukan tanpa alasan. Jika kita usut sebab yang menjadikan mereka menyebutkan salak yang ada di sekitar desa Wedi adalah salak Wedi maka kita akan menemukan dua alasan pokok. Yang pertama yaitu karena memang yang terkenal adalah salak wedi dan yang kedua adalah sejarah dari keberadaan salak di wedi dan sekitarnya tersebut.

Tidak banyak yang tahu tentang asal muasal adanya salak Wedi. Bahkan orang wedi sendiri, yang diketahui bahwa salak di Desa Wedi itu sudah ada sejak dahulu kala. Entah kapan itu adanya. Tidak peduli kapan mulainya, yang penting di Wedi ada Salak dan Wedi terkenal dengan salaknya.

Jika kita berbicara tentang sejarah salak wedi maka tidak akan lepas dari sejarah seorang ulama yang bernama Kiyai Haji Basyir Mujtaba yang hidup pada pertengahan tahun 1.800-an Masehi. Jadi, sebenarnya salak Wedi itu baru ada selama dua abad. Yang mengetahui sejarah salak Wedi ini hanya keturunan Kiyai Haji Basyir Mujtaba saja dan beberapa orang yang titen saja karena memang, sejarah itu hanya berkembang secara lisan di antara keturunan Kiyai Haji Basyir Mujtaba saja

Kiyai Haji Basyir Mujtaba memiliki nama asli Mujtaba. Berasal dari Dukuh Sekartoyo Desa Pacul, seorang putera dari Kiyai Abdur Rohim bin Kiyai Harun atau mbah Sholeh Awwal (Bungah Gresik) dengan Ibu yang bernama Nyai Umi Kulsum. Adapun nama Basyir itu sendiri diperoleh ketika beliau pergi haji di Arab Saudi, di sana beliau meminta berkah nama kepada seorang ulama’ (tidak dikenal dalam riwayatnaya). Akhirnya beliau diberi nama Basyir dan sekembalinya dari haji beliau lebih dikenal dengan nama Haji Basyir Mujtaba.

Dalam hidupnya, beliau pernah nyantri (belajar ilmu agama) yang cukup lama pada Kiyai Kholil Bangkalan Madura yang terkenal kewaliannya. Karena sudah dianggap cukup mampu menguasai ilmu agama, beliau pun pulang ke kampung halamannya Desa Pacul Bojonegoro untuk dapat mengamalkannya ilmu yang telah diperolehnya. Karena kealimannya (kepandaiannya) dalam ilmu agama beliau disebut oleh masyarakat dengan sebutan Kiyai. Sebutan kiyai di sini berbeda dengan istilah kiyai di daerah kraton. Kiyai di sini berarti sebutan untuk orang yang pandai ilmu agama Islam.

Saat itu, Desa Wedi masih dalam keadaan abangan (masih belum begitu mengenal agama Islam). Karena prihatin dengan hal tersebut, H. Abu Bakar sebagai kepala desa Wedi saat itu beserta cariknya Abdul Jabbar berinisiatif untuk mendatangkan seorang ulama untuk dapat mengajarkan ilmu agama dan memberi pengaruh baik bagi masyarakat Desa Wedi. Akhirnya mereka memutuskan untuk meminta Kiyai Haji Basyir Mujtaba agar mau berdakwah dan menetap di Desa Wedi. Dengan berbagai pertimbangan dan di Desa Pacul sudah ada kiyai, Kiyai Haji Basyir Mujtaba pun menyetujui tawaran tersebut dan beliau diboyong (membawa pindah) dari Sekartoyo Pacul ke desa Wedi. Di Desa Wedi beliau diberi sebidang tanah yang sangat luas untuk dapat dijadikan sarana berdakwah.

Beberapa tahun singgah di Wedi beliau pergi sowan kepada kiyainya yaitu K. Kholil Bangkalan untuk bersilatur rahmi dan menjaga hubungan antara guru dan murid. dari sini lah sejarah keberadaan salak Wedi itu dimulai.

Ketika hendak pulang, Kiyai Basyir diberi pohon salak dan rembulung (pohon sagu) yang kata K. Kholil Bangkalan adalah sebagai oleh-oleh dari pondok. Akhirnya, salak dan rembulung oleh-oleh dari kiyai beliau tadi ditanam di belakang rumah beliau yang berada di antara bangunan masjid Wedi dan Makam Islam desa Wedi.

Dari situ lah, kemudian salak oleh-oleh dari K. Kholil Bangkalan Madura tersebut semakin lama berkembang biak menjadi semakin banyak sampai sekarang tersebar di desa-desa sekitar Desa Wedi bahkan sampai desa Ngumpakdalem. Sedangkan pohon rembulung yang juga ditanam tersebut tidak begitu berkembang karena  selain masa panennya lama, pengolahan rembulung juga lebih sulit. Jadi sebenarnya, cikal bakal salak Wedi itu adalah salak dari Bangkalan Madura.

Walau begitu, salak Wedi memiliki ciri has tersendiri yang berbeda dengan salak lain seperti salak pondoh maupun salak Bangkalan sendiri yang merupakan asal muasal salak Wedi. Salak Wedi lebih berair dan memiliki rasa sepet, legi, kecut, masir ( Sepet, manis dan asam) dan baunya lebih menyengat dari salak jenis lain. Maka tidak salah juga jika kemudian ada yang mengatakan bahwa salak Wedi tersebut sebagai salah satu jenis dari buah salak.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY