Sejarah Perjuangan Wongso Astro di Desa Sembung Lor, Baureno, Bojonegoro

0
571

124218560Sejarah Perjalanan Hidup Mbah Wongso Astro.
Mbah Wongso Astro terlahir di desa Temu, Kanor, Bojonegoro. Mbah Wonso Astro menikah dengan seorang wanita bernama Kas srikat dari desa Sembong Lor mempunyai beberapa keturunan dari pernikahan ini. Sebagai warga di desanya Mbah Wongso Astro di hormati dan disegani oleh masyarakat sekitarnya serta di anggap anutan atau pemimpin.

Mbah Wongso seorang petani yang cukup besar dimana memiliki sawah cukup luas, hal ini otomatis membuat belanda atau penjajah menyoroti bahkan diajak bersekutu untuk menguasi dan meminta pajak didesa tersebut. Namun beda akan prinsip dari Mbah Wongso yang tidak mau berteman dengan penjajah Belanda pada waktu itu.

Mbah Wongso seorang pengusaha yang mempunyai gudang tembakau akan tetapi usaha tersebut terseok – seok karena setrategi dari Belanda untuk menguasai seluruh aspek dari pribumi. Mbah Wongso dan istrinya atau Mbah Kas Srikat menjadi keluarga yang di sanjung oleh warga dan dibenci serta dimusuhi oleh penjajah Belanda. Anak – anak dari Mbah Wongso sejak kecil di ajari dengan agama Islam agar menjadi generasi yang punya karakter, hal ini bertujuan agar membela Negara. Karena dalam agama Islam juga menyatakan bahwa membela tanah air sebagian adalah iman.

Sekitar tahun 1932an keluarga dari Mbah Wongso dimata – mata oleh penjajah karena dianggap bahwa Mbah Wongso membahayakan kedudukan Belanda di kecamatan Baureno. Namun usaha Mbah Wongso didukung oleh pasukan Indonesia yang ingin merdeka dari Belanda. Mbah Wongso adalah seorang pejuang yang tanpa bayaran sepeserpun dengan keberaniaan yang tidak dapat dipandang remeh oleh penjajah.

Perjuangan Mbah Wongso Astro Melawan Penjajah.
Kenyaman dan keaman dalam suatu Negara adalah impian setiap masyarakat dalam suatu Bangsa. Melepaskan diri dari penjajah adalah cita – cita bangsa Indonesia agar mencapai puncak dan mendapat haknya yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan suatu hal yang mahal bagi rakyat Indonesia karena bukan hanya harta saja yang dikorbankan bahkan nyawanpun dikorbankan untuk mengusir Belanda dari tanah ibu pertiwi ini. Mbah Wongso Astro salah satu dari berjuta rakyat yang menginkan kemerdekaan.

Mbah Wongso memulai menentang akan kebiadaban Belanda ketika sekitar tahun 1932an. Hal ini mebuat pemerintah Belanda geram akan perlawanan Mbah Wonso dan pasukan Indonesia yang menginginkan kemerdekaan. Rumah Mbah Wongso terletak di depan perempatan dan mengarah ke selatan dengan pelataran yang luas. Mbah Wongso menyediakan rumahnya untuk markas prajurit Indonesia, yang melindungi dan menyembunyikan prajurit Indonesia pada waktu di serang oleh tentara Belanda.

Pada 1935an Mbah Wongso dan prajurit Indonesia diserbu oleh penjajah dengan senjata yang lengkap. Pasukan Indonesia yang tidak ada ditempat hanya menyisakan beberapa pasukan saja dan hal ini membuat pasukan Indonesia lari menyelamatkan diri. Namun Mbah Wongso dengan keberanian menemui Belanda dan berkata mereka tidak ada disini, tetapi mereka tidak percaya akhirnya menggeledah rumah Mbah Wongso tersebut.

Sekitar akhir tahun antara november dan desember kembali menyerbu penjajah oleh Mbah Wongso dan prajurit Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajah dari desa dan kecamatannya tersebut. Akhirnya berasil menguasai kembali dari kekuasaan penjajah. Tetapi Kolonial Belanda menyerbu kembali dan mencari Mbah Wongso dan pasukan Indonesia akan tetapi ini terbaca oleh pasukan Indonesia. Dengan bocornya penyerbuaan ini Mbah Wongso menyelamatkan diri beserta keluarga dan prajurit Indonesia ke daerah utara kecamatan tersebut.

Pada 1938an kembali Belanda menyerang rumah Mbah Wongso akan tetapi kembali terbaca lagi penyerangan belanda ini akhirnya prajurit Indonesia melarikan diri. Istri dan anak dari Mbah Wongso di rumah mertuanya agar tidak terlibat dalam pertempuran dan perlawan dengan kolonial. Tidak beselang kemudian perlawanan Mbah Wongso masih di soroti oleh penjajah. Pemerintah Kolonial mengincar anak Mbah Wongso yaitu Widji Utami yang akan di bunuh.

Ketika penyerbuan ini Mbah Wongso dengan cerdas membuang senjata pasukan Indonesia di Tambak (kolam ikan) agar tidak tercium oleh Belanda tentang keberadaan pasukan Indonesia pada saat itu. Penjajah belanda pada akhir 1939an mulai mundur dan menjauh dari desa dan kecamatan tersebut bukan berarti menyerah tetapi strategi agar lenggah pasukan Indonesia.

Strategi ini berasil penyerbuan untuk sekian kalinya membuahkan hasil Mbah Wongso tertanggap dan dibawa ke markas belanda di kecamatan itu namun di tengah jalan dapat di hadang oleh warga desa tetangga yang mendengar peristiwa ini. Akhirnya Mbah Wongso dapat terbebas dan pasukan belanda melarikan diri dan ada yang mati karena terkena jebakan yang dipasang oleh pasukan Indonesia dan warga desa tetangga.

Dengan melemahnya Belanda desa dan sebagian daerah kecamatan Baureno aman. Akhirnya pada tahun 1942an Mbah Wongso dan prajurit Indonesia sedikit lega dengan kepergian Belanda dan kedatangan Jepang dengan janjinya. Namun janji tersebut tetap bukan akhir dari perjuangan Mbah Wongso dan rakyat Indonesia. Pada 1945 Mbah Wongso sangat senang dan dilakukan sukuran besar di desanya atas kemerdekaan Indonesia.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY