Sejarah Bojonegoro Dalam Buku Bunga Rampai

0
1123

Pada Tahun 898-91O yang berkuasa atas wilayah Jawa Tengah dan jawa Timur adalah masa Pemerintahan Maha Raja Balitung, kala itu Bojonegoro belum ada dan hanyalah sebuah hutan rimba yang diberi nama Alas Tua, diapit-apit oleh pegunungan kapur sebelah utara dan pegunungan kapur sebelah selatan, serta dialiri oleh sungai Solo dan Kali Brantas Dukuh Randu Gempol, karena ia di anggap mempunyai kekuatan gaib [ charisma ] yang besar dan lantaran keberaniannya, maka ia di segani oleh para penduduk dan kepala-kepala suku yang lain.

Lama kelamaan karena pengaruh kultur Hinduisme yang makin meresap, maka Ki Ruhadi akhirnya menghindukan daerahnya. Dengan system pemerintahan yang Hinduisme nama Ki Ruhadi di ubah menjadi Rakai Purnawikan dan di angkat menjadi raja yang beraliran syiwa.

Sedangkan Dukuh Randu Gempol di ubah menjadi Kerajaan Hurandu Purwa [ yang letaknya di Ds.Plesungan kapas sekarang ]. Kemudian iapun menaklukan datuk-datuk sekitarnya. Kerajaannyapun di perluas dari gunung pegat di hutan Babatan [ sekarang babat ] hingga ke Purwosari,cepu,Jatirogo [ tuban ] dan hutan wangi [ sekarang ngawi ].

Pegunungan kapur utara dan pegunungan kapur selatan di pakainya sebagai benteng pertahanan. Sungai Solo di pakai sebagai lalu lintas perdagangan,[jl.gajah mada,kartini dan darma bakti hingga jl.jaksa agung suprapto pada waktu masih merupakan sungai solo yang ramai akan lalu lintas ], sedangkan ibu kota kerajaan di pusatkan di Kedaton [ sekarang Ds.kedaton kapas ] yang ± tahun 1.115 menjadi pusat keramain kerajaan Hurandu Purwa.

Setelah lenyapnya raja dan kerajaan Hurandu Purwa,pada abad X yakni; tatkala Maharaja Airlangga bertahta di kahuripan [ 1006-1042 ],maka kembali nama kerajaan Hurandu Purwa di liputi misteri. Waktu itu ada seorang raja putri Mahasia dari Wengker memperluas wilayah kekuasaannya ke utara. Kerajaan-kerajaan kecil yang ikut di caploknya adalah; Djulungpudjut, Ketanggapura, Argasoka.

Adapun Ketanggapura terletak di Ds. Sumberrejo sekarang.Sedangkan Argasoka terletak di Ds. Prambon kec. Soko sekarang. Dan ini menandakan bahwa pada abad XI itu tidak ada sebuah kerajaan luas yang bersatu,melainkan kerajaan-kerajaan kecil yang bertebaran di berbagai tempat.

Sedangkan kekuasaan Raja Putri Mahasia di kota Gedah [ yang terletak diperbatasan Nganjuk-Kertosona sekarang ]. Dan ketika Raja Airlangga dengan bantuan Mpu Baradah dapat menaklukan Kerajaan Wengker { Raja Putri Mahasia }, Dengan demikian seluruh wilayah jawa timur menjadi kekuasaan Prabu Airlangga. Dan untuk menyenangakn hati, Prabu Airlangga membuat padang perburuan di Karang Kahuripan,Krapyak dan Bedander ( sekarang Dander ).

Dengan demikian hanya ada satu Kabupaten yang diperbolehkan berdiri disini yaitu; Kabupaten Rajekwesi yang terletak di ( desa Senori sekarang ),sebagai Bupatinya Airlangga menunjuk kemenakannya sendiri yaitu Pandaprana.

Sedangkan putrinda Airlangga yang bernama Dyah Sangramawijaya Dharma tungga Dewi atau biksumi kilicuci lebih memilih sebagai pertapa dan tidak kawin serta tidak mau mewarisi tahta ayahanda. Ia kemudian mendirikan pertapaan-pertapaan di Mojosari, Glagahwangi dan Sendang Siwalan. Untuk menjalankan tapanya Dyah kilicucipun sering mengunjungi pertapaan-pertapaan dibekas kerajaan Hurandu Purwa ini.

Kemudian dalam masa perkembangan kerajaan Singosari ( 1222-1292 ), Kabupaten Rajekwesi memperluas dirinya ke barat dan ke timur,Bupati-bupati keturunan Pandaprana menganggap dirinya berkuasa penuh sebagai raja. Akibat tindakan absolute bupat-bupati itu maka pecahlah kabupaten Rajekwesi ini, masing-masing menjadi Kabupaten Rajekwesi Wetan,Bahuwerno,Getasan, Kenur ( sekarang kanor ),Asem Kasapta ( sekarang ngasem ), dan Malino ( sekarang Klino ).

Dan masing-masing kabupaten kecil-kecil menganggap punya hak otonomi daerah serta merdeka. Pada masa Pemerintahan Kerta Redjasa Djayawardhana ( Raden Wijaya )tahun( 1293-1309 ) Raja Majapahit yang pertama, kabupaten-kabupaten Rajekwesi wetan, Bahuwerno, Getasan, Kenur dan Asem Kasapta di lebur menjadi satu Kabupaten yaitu; Kabupaten Kahuripan dengan Perwitasari menjadi Adipatinya. Dan Adipati ini masih keturunan Pandaprana. Pada masa pemerintahan adipati inilah kali solo di bendung di daerah Gumolong ( sekarang Trucuk ). Dan pada masa itu pelabuhan Tuban terkenal sebagai pelabuhan transito. Hasil-hasil kayu,kelapa,buah-buahan,sayur-mayur dari Kahuripan di ekspor keluar melalui Sungai solo.

Dan candi-candipun di dirikan untuk memuliakan Hyang Wisnu,Brahma dan syiwa di antaranya di gunung pandan, Merak urak dan Plumpang, tapi sayang candi yang di dirikan oleh Prabu Airlangga dan di jaga dan di pelihara dengan baik di jaman Majapahit itu telah di hancurkan oleh tentara Islam dari Demak,ketika ia menyerang Kahuripan dari daerah Bonang Tuban. Sebuah candi yang masih berdiri megah terletak di Ds. Banjararum. Candi ini dirikan oleh adipati Perwitasari,  konon candi tersebut tertimbun tanah yang terletak di Dusun Pagak ( sekarang).

Sedangkan beberapa candi budha dengan pertapaan kecil-kecil tersebar di dusun Banjarsari dan Mentora di daerah soko. Kemudian pada jaman kerajaan islam di Demak ( 1521 ),boleh dikatakan nama Kahuripan ditelan jaman atau telah dilupakan oleh sejarah.Karena pada waktu perampok Loka Djaja menjarah beberapa buah desa di wilayah kahuripan,kabupaten dan isinya tak luput dari bahaya api.Hanya beberapa pedusunan kecil yang terletak di kalirejo dan leran saja yang masih berdiri.

Kemudian sekitar tahun 1523 timbullah dua kabupaten islam dibekas kabupaten itu.Dua kabupaten itu adalah kabupaten Jipang Panolan dan Kabupaten Waru. Kemudian sultan Demak mengangkat seorang hamba sahayanya yaitu Raden Wirabaya sebagai Adipati Jipang dan bekas Senopati Anggakusuma sebagai Adipati Waru.

Adapun di kabupaten tersebut, diserahkan oleh Sultan Demak kedalam kekuasaan Sunan Bonang. Kemudian sunan Bonang menyerahkan kedua kabupaten tersebut kepada Sunan Kalijaga muridnya.

Ketika Adipati Wiroboyo mangkat, maka Sultan Demak mengangkat Pangeran Sekar sebagai Adipati Jipang. Tatkala beliau terbunuh oleh kemenakannya sendiri maka, Ario Penangsang ( Putra Pangeran Sekar ) diangkat menjadi Adipati Jipang Panolan.

Sedangkan dalam tahun-tahun berikutnya Bupati-bupati Rajekwesi dan Boworeno di angkat langsung oleh Sunan Kalijaga dan mereka itu semua adalah putra keturunan Sunan Kalijaga. Dan ini penting untuk mengkokohkan pundamen kekuasaan.

Ketika Ario Penangsang memberontak pada Demak, maka kedua Kabupaten Rajekwesi dan Boworeno dibakarnya lantas dipersatukannya dengan Jipang Panolan. Waktu itu Demak tidak berbuat apa-apa sehingga Ario Penangsang praktis tidak berkuasa atas Tuban juga,karena masa itu Tuban termasuk wilayah Rajekwesi. Salah seorang kepercayaan Ario Penangsang Ki Ageng Wiropati di angkat menjadi Buyut ( setingkat Demang )di Banjarsari.

Dan seorang lagi Ageng Ki Badjoel Seto diangkat menjadi Buyut di Krapyak ( kalirejo). Tatkala kerajaan Pajang berdiri (kesultanan) dengan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir ) sebagai Sultannya ( 1563-1582 ), maka kekuasaan Ario Penagsang di pesisir utara hamper menandingi Pajang.

Melihat hal yang demikian maka Sultan Pajang ingin mengenyahkan Ario penangsang. Setelah Ario Penangsang berhasil di enyahkan / dibunuhnya, hancurlah Jipang Panolan. Sultan Pajang akhirnya mempersatukan Jipang dengan Pajang. Sedangkan pada waktu Ario Pangiri di pindahkan sebagai Bupati Demak, maka putra mahkota Pangeran Pajang yaitu Pangeran Bawono diperbantukan sementara sebagai Bupati Jipang.Sedangkan wilayah Jipang sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Jipang dan Kabupaten Rajekwesi.

Untuk Kabupaten Jipang tetap di perintahnya sendiri, sedang untuk kabupaten yang baru ( Rajekwesi ) di tunjuk Pangeran Timur ( putra pangeran Trenggono ) sebagai Bupatinya.

Sedangkan sebagai hadiah kepada Danang Suta Adiwijaya (anak Ki Gede Pemanahan) yang sudah berhasil membunuh Ario Penangsang, Maka hutan Randu Blatung,Padangan dan Pengawikan ( Ngawi sekarang )di tambah hutan Mentaok di serahkan kepada Danang Suta Adiwijaya.

Dan selanjutnya Danang Suta Adiwijaya di jadikan putra Sultan. Pada tahun 1570 Danang Suta Adiwijaya (Pangeran Hangebei Loring pasar) mengadakan kudeta atas kesultanan Pajang,dan sultan Hadiwijaya dibunuhnya.

Setelah Danang Suta Adiwijaya berhasil menjadi Raja mataram beliau bergelar Panembahan Senopati ( 1586-1601 ), maka beliau kemudian memanggil Pangeran Bawono ke mataram. Panembahan Senopati membagi daerah menjadi dua bagian,ini dilakukan karena beliau masih menghargai hak-hak pewaris putra mahkota Pajang. Untuk panembahan Senopati tetap memerintah bekas kesultanan Pajang yang lama dengan memindahkan kerajaan Gedi ( Kota Gede ).

Sedangkan daerah Jipang Panolan,Randu blatung,Padangan dan Pengawikan di serahkan kepada Pangeran Bawono, sedangkan untuk Pangeran Timur masih tetap memerintah Rajekwesi dan tetap berstatus Bupati .

Sedangkan untuk Pangeran Bawono di perbolehkan menjadi Sultan. Kemudian dalam tahun 1588 Pangeran Bawono mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar Sultan Prabu widjaya dan daerahnya di namakan Panjang Sewu. Tak lama kemudian daerah PanjangSewu semakin luas serta seluruh pesisir utarapun menyatakan tunduk kepada Sultan PanjangSewu.

Melihat akan hal ini Panembahan Senopati merasa khawatir kalau kekuasaannya terancam, maka iapun mengerahkan pasukannya untuk menggempur PanjangSewu dan menaklukannya. Dan pertempuranpun meletus, namun Prabu widjaya gigih dalam melawan pasukan panembahan senopati. Dalam pertempuran berkali-kali di sungai Solo, Kedung Srengenge, Palesungan, Dampit dan Tapelan pasukan Panembahan Senopati menderita kekalahan.

Dengan banyaknya kerugian dan kekalahan akhirnya Panembahan Senopati meminta bantuan Sunan Mojoagung dan bala tentara portugis untuk menaklukan dan menghancurkan Sultan Prabu Widjaya ( PanjangSewu ).

Karena pasukan PanjangSewu kalah persenjataan dengan tentara portugis lama kelamaan pasukan PanjangSewu semakin terdesak. Sungai Solo dan anak-anak sungainya jatuh ketangan musuh.

Perbentengan dibukit kapur utara dan selatanpun dapat digempur dan di rebut oleh mataram. Panjang Sewupun akhirnya dapat di taklukan dan di hancurkan. Dan Sultan Prabuwidjaya dan keluarganya melarikan diri ke utara untuk menyelamatkan diri. Dalam pelariannya ke Banjarsari sultan dengan para pangerannya tertangkap oleh lawan dan di binasakan lalu mayatnya juga di kuburkan di daerah itu.

Semenjak jatuhnya PanjangSewu nama Jipang dan Rajekwesi hilang dari penulis-penulis sejarah. Dalam pemerintahan raja-raja mataram,Kartasura, Surakarta,dan Yogjakarta (1645-1757 ), nama-nama daerah yang sering disebut sengketa antara Kasunan Surakarta dengan Kasultanan Yogjakarta itu adalah Jipang dan Kertosono.

Dan satu kali Adipati Prawirodirdjo II dari Kertosono menyerang Jipang dan daerah itu direbutnya dari tangan sultan solo, lalu menyerahkannya kepada Sultan Hamengkubuwono II.

Dimasa pemerintahan Hamengkubuwono II yang termasuk Jipang itu adalah daerah-daerah : Blora, Bonang, Pamotan, Padangan, Rajekwesi, dan Lasem. Jadi praktis Rajekwesi menjadi wilayah kesultanan Yogjakarta.

Ketika Sultan Hamengkubuwono II memasukkan daerah-daerah itu ke wilayahnya,maka nama Jipang di hapus dan di ganti dengan nama Rajekwesi. Rajekwesi yang sebagai kabupaten untuk itu di taruhlah seorang putra dari selir bernama Kanjeng Raden Tumenggung Wiryohadinegoro. Dalam menjalankan tugas sehari-hari ia di bantu oleh seorang patih.

Setelah sepeninggalannya lalu Sultan mengangkat putranya R.M Brotodiningrat sebagai Bupati Rajekwesi. Pada waktu meletus perang Diponegoro ( 1825-1830 ), Bupati Brotodiningrat di daulat oleh rakyatnya sendiri. Karena rakyat di hasut oleh seorang tokoh pemberontak dari Tuban yang bernama Sosrodilogo.

Dengan kekuatan pasukan Diponegoro dari Rembang, Sosrodilogo berhasil merebut kekuasaannya atas tahta Rajekwesi itu. Keraton di bakar jadi abu,dan bekas pondasi perumahan kabupaten itulah yang akhirnya di namakan Ngumpakdalem dan desa di sekitar itupun lantas bernama Ngumpakdalem.

Ketika R.M Soedarsono ( putra Bupati Brotodiningrat ) mendapat mandat rakyat untuk menjadi Bupati pengganti ayahnya. Tetapi beliau di tembak oleh kompeni Belanda, waktu pepergian ke Surabaya ( 11 April 1826 ).

Adiknya yang bernama R.M Sasongko akhirnya mau berdamai dengan Belanda dan berhasil membunuh si pemberontak Sosrodilogo, kemudian Belanda mengangkat R.M Sasongko sebagai Bupati Rajekwesi dengan gelar R.M Srio Adipati Mulyodiningrat.

Pada tanggal 14 Nopember 1827 Bupati pindah ke Ibu kota agak ke utara bekas hutan Kebogadung.

Sumber dari Buku Bunga Rampai

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY