Penari-Penari Kecilku Mewujudkan Mimpiku

0
719

PENARI-PENARI KECILKU MEWUJUDKAN MIMPIKU

Suasana di ruang guru begitu ramai. Beberapa guru tampak lalu lalang dengan segala kesibukannya. Bulan ini banyak sekali kegiatan sekolah.  Salah satu diantaranya adalah Kegiatan Pekan Seni Pelajar di Tingkat  Kabupaten , sebuah kegiatan berbentuk lomba yang beradu karya cipta dan kreativitas di beberapa bidang seni.

Sebagai guru Bahasa Inggris, tentu saja kegiatan ini tak begitu menarik perhatianku karena aku bukan guru seni budaya. Meskipun demikian aku tetap ingin tahu lomba yang diselenggarakan dalam kegiatan pekan seni tersebut

Perlahan-lahan aku ikut  baca dan coba cermati isi surat dan panduan kegiatan yang  diberikan oleh Mbak Dwi pada temanku sebagai urusan kesiswaan di ruang guru. Didalam isi surat itu salah satu seni yang dilombakan adalah Lomba  Karya Cipta Seni Tari Remaja. Ingatanku tiba-tiba kembali menembus waktu setahun silam. Kala itu aku membaca sebuah tulisan di sebuah surat khabar yang menulis tentang prestasi  guru seni tari yang berhasil mengukir juara terbaik atas karya cipta tariannya yang fenomenal. Membayangkan bagaimana cara menciptakan ide, memvisualisasikannya dalam bentuk tarian,merancang kostum tari, mengatur tata pemanfaatan panggung, juga tentu saja penataan musik sebagai pengiring tarian benar-benar tak terjangkau oleh pikiranku. Impianku semakin tinggi. Mungkinkah aku bisa melakukannya ? Andai aku bisa melakukannya, pasti hebat dan luar biasa.… “ gumamku dalam hati.

“Ayo… ikut,Bu . Njenengan pasti bisa“, kata bu Mar mengagetkanku. Membuyarkan lamunanku. Aku  tersenyum.

“Bagaimana mungkin ,Bu? Aku kan guru Bahasa Inggris. Ini bukan sekedar menari  lho. Tapi ini menciptakan karya cipta tari .  “ kataku sambil melakukan gerakan tarian seenaknya . Kami berdua tertawa lepas .

Di rumah , ternyata aku terus memikirkan lomba tari itu. Beberapa seni yang dilombakan dalam kegiatan pekan seni itu  diikuti oleh sekolahku kecuali lomba karya cipta tari. Aku berpikir, seharusnya sekolahku  bisa mengikuti lomba tari itu karena sekolahku adalah sekolah besar , yang memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap, juga memiliki guru dan murid-murid yang hebat dan sangat berpotensi. Sayang sekali jika sekolahku tidak mengupayakan dan mengikuti lomba itu. Sekolahku telah banyak meraup prestasi juara dalam berbagai lomba. Akan tetapi untuk lomba tari,  sekolahku belum pernah sekalipun  ikut  berpartisipasi .

Hari terus berlalu. Persiapan untuk mengikuti kegiatan lomba dan pelaksanaan lomba pekan seni tinggal menghitung hari dan menunggu waktu. Ternyata aku tak bisa meredam naluriku untuk menaklukkan tantangan hatiku yang terus menggelora untuk ikut dalam lomba karya cipta tari itu. Aku yakinkan diri dan aku pastikan diri bahwa sekolahku harus ikut dan aku yang akan menangani.

“ Sekolahku harus ikut dan Aku pasti bisa melakukannya… ! “ Teriakku dalam hati menyemangati diri.

Aku mulai merajut mimpiku. Setiap tengah malam, aku tidak segera tidur karena imajinasiku sedang bekerja. Aku berkonsentrasi untuk menggali ideku. Pengalaman dan cerita masa kecilku ternyata sangat membantuku. Dengan sedikit bekal pengalaman ikut latihan tari di sebuah sanggar tari  yang pernah kudapatkan waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku mencoba menterjemahkan dalam bentuk visualisasi gerakan yang bermakna. Setiap gerakan yang tercipta, aku tuliskan dalam kertas. Aku catat semuanya satu demi satu langkah dan gerakan demi gerakan tari itu agar aku tak lupa. Kemudian aku padukan setiap langkah, lekuk dan gerakan tari yang  tercipta itu dengan iringan musik  yang kupilih dan  aku ramu sedemikian rupa sehingga  menjadi sebuah karya cipta  tari  yang kuberi judul tari “Gojeg Thengul”. Tarian ini terinspirasi dari  cerita masa kecilku. Ketika aku masih kecil dan duduk dibangku sekolah dasar, bersama-sama teman-teman kampung di desaku, kami sering menirukan gerakan-gerakan tokoh-tokoh wayang thengul seperti kebo mercuet, jemblung marmoyo,dan lain-lain .  Tokoh-tokoh wayang thengul ini begitu melekat di hati dan pikiran kami karena kami sering melihat pertunjukkan wayang thengul yang digelar di rumah penduduk yang punya hajat di desa kami. Wayang thengul adalah salah satu kesenian tradisional kebanggaan di kotaku.

Waktuku hanya satu minggu. Langkahku harus cepat. Aku siapkan semua dengan cermat dan matang mulai dari rias hingga kostumnya. Aku pilih murid-murid terbaikku. Aku latih mereka dengan kesabaran dan segenap jiwaku. Aku ajarkan mereka tahap demi tahap setiap gerakan tari yang aku ciptakan itu. Ada yang lucu dari caraku melatih mereka. Malam aku menciptakan beberapa gerakan tari, kemudian keesokan harinya aku ajarkan pada mereka.Malam berikutnya aku ciptakan gerakan tarian selanjutnya, kemudian besoknya aku ajarkan lagi. Begitu dan seterusnya hingga sempurna dan lengkaplah sudah semua gerakan tarian itu. Peluhku bercucuran menahan lelah saat melatih anak-anakku  menari. Aku  terbiasa memanggil murid-muridku dengan sebutan ‘anak-anakku’ . Setiap pulang sekolah, rasanya badanku  pegal dan sakit semua .Maklum, sekian puluh tahun aku tidak pernah menari. Meski aku pernah ikut sanggar tari waktu aku masih berada di bangku sekolah dasar dan hanya beberapa tahun, tapi tidak ada satupun tarian yang aku bisa ingat apalagi yang bisa aku tarikan.hehehe…

Akhirnya , hari  pelaksanaan lomba tiba  Waktu menunjukkan pukul  setengah delapan pagi. Dirumahku, anak-anakku berkumpul dan bersiap untuk berangkat setelah selesai berdandan. Aku periksa satu persatu. Aku pastikan tak ada yang terlupa atau terlewatkan. Penari-penari kecilku tampak cantik dan mempesona, Semua tampak  sempurna. Aku tersenyum lega. Kamipun berangkat menuju ke tempat lomba setelah sebelumnya kami berdoa terlebih dahulu bersama-sama.

Lomba dimulai. Satu persatu peserta lomba menampilkan tariannya. Kemudian  tibalah giliran kami. Aku semangati ketujuh penari-penari kecilku itu. Aku yakinkan pada mereka bahwa mereka akan bisa melakukan yang terbaik. Aku pegang dan elus setiap dari mereka sambil berteriak “ Kamu Thengul… !”.

Suara alunan musik mulai terdengar dan mengalun mengiringi gerakan tarian para penari kecilku. Aku melihat mereka begitu menjiwai perannya. Aku melihat mereka begitu menikmati setiap gerakan yang dilakukan. Aku sangat terharu hingga tak kuasa menahan tangis. Tepuk tangan tiada henti terus terdengar hingga di akhir pertunjukkan penampilan tari mereka. Aku peluk mereka satu persatu dan aku katakan pada mereka betapa mereka sangat hebat. Aku lihat wajah-wajah nan berseri dan tampak sangat lega yang terpancar dari para penari kecilku.

Detik – detik waktu pengumuman hasil lomba tari tiba. Kami mulai gelisah dan tidak tenang.Dadaku berdegup kencang dan terasa sesak sekali menunggu hasil pengumuman itu. Aku tak kuasa melihat anak-anakku yang berharap-harap cemas itu berdiri mendekat  di bibir panggung menunggu pengumuman itu. Lalu aku melangkah agak menjauh . Aku hanya bisa berdoa semoga anak-anakku dapat menerima apapun keputusan dewan juri.

“ Mam Nety… . Kita dapat juara satu,Mam…!”, teriak Fitri dan diikuti bersautan oleh anak-anak tariku yang lain.

Mereke berlari ke arahku, membelah kegundahanku. Seketika aku peluk mereka dan kamipun menangis penuh haru.

“ Mam Nety, kita akan mewakili kabupaten kita ke tingkat Propinsi.. “ kata Ismi.

Aku mengangguk perlahan seraya mengiyakan dengan kata yang keluar perlahan dari mulutku. Haruku masih terus bergemuruh, membuatku tak mampu berkata-kata dan berbicara banyak. Setelah puas menumpahkan keharuan dan kebahagiaan atas kemenangan yang  baru saja kami raih, kemudian kami pulang bersama-sama dengan gembira sambil  menggengam dan membawa pulang  piala kemenangan .

Keesokan hari disekolah, aku memanggil anak-anakku. Aku ungkapkan rasa bangga dan terimakasihku pada mereka yang telah melakukan yang terbaik untuk sekolah hingga menorehkan prestasi yang luar biasa. Kemudian aku katakan pada mereka bahwa pertarungan kita belum berakhir. Kita harus lebih semangat lagi untuk  mempersiapkan diri secara fisik dan mental dan  berlatih lebih keras  karena kita punya tugas berat yaitu mewakili kabupaten kita  beradu ke tingkat   propinsi.

“ Siap…, Mam. Kami akan tetap bersemangat dan melakukan yang terbaik” kata anak-anakku bersama- sama. Kemudian kami tertawa lepas bersama dan bersenda gurau serta saling berbagi cerita kegembiraan kami atas kemenangan yang baru saja kami peroleh.

Waktu terus berlalu dan hari terus berjalan. Kami terus berlatih dengan intensif di sekolah untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin dalam lomba di tingkat propinsi. Kemudian tibalah saatnya kami berlomba di tingkat propinsi.

Aku melihat kali ini anak-anakku tampak berbeda. Mereka tampak sangat nervous. Aku bisa memahami karena ini adalah pengalaman pertama mereka berlomba di tingkat propinsi. Ah, tiba-tiba aku ikut-ikutan diselimuti kecemasan yang mulai menyelinap rasa hatiku.

Lomba Tari tingkat propinsi dimulai. Satu persatu peserta tampil. Segera aku periksa dan tata satu persatu ketujuh penari-penari kecilku di belakang panggung untuk memastikan segalanya baik dan  siap untuk tampil . Beberapa menit lagi adalah gilirannya.

“ Semangat  anak-anak terbaikku…. !” kataku saat mereka bersiap akan keluar dari belakang panggung untuk masuk kedalam panggung dan tampil menari. Setelah itu aku berlari menuju di pinggir panggung untuk menyaksikan anak-anakku tampil menari. Aku mendengar tepuk tangan penonton yang berulang kali bergema. Aku melihat begitu banyak mata penonton menyaksikan mereka. Aku melihat penonton begitu terhibur dan tertawa menyaksikan mereka. Betapa membesarkan hati dan mengharukan jiwaku melihat mereka menari diatas panggung dengan penuh semangat dan percaya diri .Aku tak kuasa membendung airmata haruku. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba  keharuanku tersentak. Penari-penari kecil hebatku mengalami masalah ketika mereka tiba-tiba tak lagi bisa konsentrasi karena tak mampu menyatukan kekompakan gerakan tari. Keadaan itu benar-benar menggoncangkan hati mereka. Aku melihat mereka mulai luruh semangat  dan kehilangan kepercayaan diri.  Aku terus berdoa tiada henti agar mereka tetap kuat dan mampu menyelesaikan tariannya.

“ Tetap semangat ,anak-anak hebatku. Aku yakin Engkau pasti bisa menyelesaikan pertunjukkan dan penampilan tarimu…. “ kataku tiada henti. Yang membuatku takjub, aku melihat dan mendengar penonton berusaha memberikan semangat kepada ke tujuh penariku yang mulai berkecil hati dan benar-benar luruh semangatnya.

“ Terus semangat…,jangan putus asa, Teruslah menari.…ayo…!” Kata  penonton berusaha menyemangati mereka untuk tetap menari . Akhirnya, ketujuh penariku dapat menyelesaikan tariannya diiringi tepuk tangan penonton yang tiada henti masih terdengar hingga ketujuh penariku menghilang di balik panggung.

Air mata ketujuh para penariku tak lagi mampu terbendung. Mereka bersimpuh luruh dan menangis dihadapaanku. Air matanya terus mengalir sendu tenggelam dalam rasa kecewa dan sedih yang teramat sangat. Hatiku serasa terkoyak. Aku tak bisa berkata-kata dan bahkan tak mampu menangis untuk sesaat melihat mereka seperti itu. Aku terdiam . Aku berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Setelah itu aku berusaha  membesarkan hati mereka dengan memulai kata-kata motivasiku meski tangis mereka tak mampu kuhentikan. Aku pegang tangan mereka. Kemuadian  aku kembali terdiam . Aku tunggu mereka  dengan sabar hingga keadannya tenang  . Ketika tangis mereka reda ,aku berkata dengan penuh senyum.

“ Kalian semua hebat dan luar biasa, anak-anakku. Aku bangga padamu. Pengalaman yang kau dapatkan ini akan mengajarkanmu banyak hal. Engkau telah mendapatkan banyak pelajaran berharga atas kemenangan yang pernah kalian genggam juga kekalahan yang kamu rasakan saat ini. Lengkap sudah rasamu. Semua akan membuatmu kuat.  Tetap semangat,ya… ,” Kata-kataku mengalir bagi air .

Ketujuh penariku mulai bisa tersenyum. Mereka bahkan juga mulai bisa tertawa karena melihat wajah temannya yang belepotan riasnya karena mengusap wajah seenaknya setelah habis menangis . Kami semakin tak bisa menahan tertawa karena mendengar ada salah satu dari mereka yang belum bisa berhenti menangis dan tangisannya terdengar lucu dan jelek. Akhirnya perlahan tapi pasti , ketujuh penariku bisa melupakan kesedihannya dan mulai  menerima kekalahan dengan jiwa besar. Ketujuh penari kecilku telah menemukan kembali semangatnya dan aku senang sekali melihat mereka kembali bersemangat.

“ Terimakasih, penari-penari kecil hebatku. Engkau telah mewujudkan mimpiku…,” kataku dalam hati penuh haru sambil tersenyum saat teringat kembali akan impianku setahun silam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY