Penanaman Tiga Aspek Kecerdasan Kepada Peserta Didik Perwujudan Cita-Cita Pendisi Bangsa Indonesia

0
265

Abstrak
Pendidikan di Indonesia selalu diusahakan lebih baik dan mampu membentuk karakter masyarakat Indonesia khususnya generasi muda. Tidak bisa dihindari lagi bahwa pendidikan menjadi tolak ukur kualitas sumber daya manusia suatu bangsa tertentu. Sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia memunculkan kaum pelajar memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Kualitas yang ingin diwujudkan dalam pendidikan di Indonesia tergambar pada Kurikulum 2013 yang terdapat nilai spiritual, intelektual dan sosial. Keseimbangan dalam kecerdasan sangat diperlukan untuk membentuk manusia yang ideal. Pemikiran-pemikiran yang ideal tentu saja memunculkan sebuah gagasan yang bersifat inovatif, kreatif dan berkemajuan. Mewujudkan cita-cita pendiri bangsa tidaklah mudah tetapi tidaklah mustahil. Membentuk manusia Indonesia yang cerdas dalam spiritual, intelektual dan sosial serta memegang teguh sila-sila dalam Pancasila sebagai sebuah ideologi.

Keyword: Pendidikan, Kurikulum 2013, Kecerdasan Spiritual, Intelektual dan Sosial.

Pendahuluan
Pendidikan menjadi sebuah lentera yang menerangi ruangan yang gelap gulita. Janganlah sampai kegelapan-kegelapan tersebut menjelma menjadi sebuah jeruji penjara yang memenjarakan pemikiran kita. Menjadi sebuah lentera dalam ruangan yang luas tanpa batas tentu saja tidaklah mudah. Pendidikan merupakan
sebuah lentera yang dapat memberikan cahaya menuju jalan yang menyembunyikan cakrawala dunia. Pendidikan merupakan salah satu faktor bangsa ini menemukan jati diri yang berabad-abad tertutupi oleh dominasi bangsa lain. Pendidikan yang diharapkan oleh pendiri Bangsa Indonesia tidak hanyakecerdasan dalam bidang intelektual tetapi bidang sosial dan spiritual. Tiga aspek kecerdasan ini merupakan sebuah ciri dari bangsa ini yang tidak bisa terpisahkan. Kecerdasan spiritual, intelektual & sosial termuat dalam sila-sila pada Pancasila yang merupakan ideologi bangsa ini.
Pemikiran tentang dibutuhkannya tiga aspek kecerdasan ini tercermin pada pendidikan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan yang pada saat itu melihat bahwa tidak hanya aspek spiritual dan sosial yang sudah didapat di tempat mengaji alquran dan kitab kuning saja tetapi juga dibutuhkan aspek intelektual untuk menghadapi kemajuan zaman. Aspek-aspek ini juga diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam taman siswa terdapat konsep Panca Dharma (lima asas) yaitu: “asas kodrat alam, asas kemerdekaan, asas kebudayaan, asas kebangsaan, dan asas kemanusiaan” (Solehan, 2010: 4).
Tiga aspek dalam kecerdasan ini setidaknya menjadi dasar untuk generasi-genarasi bangsa ini untuk menghadapi tantangan-tantangan yang semakin lama semakin kompleks. Permasalahan bangsa ini muncul tidak hanya dari faktor eksternal saja tetapi harus diwaspadai yaitu muncul dari faktor internal. Selama aspek-aspek tersebut dipegang teguh dan diimplementasikan sesungguhnya bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan benar-benar merdeka dalam arti tersirat. Sesuatu bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri Beograd tidak dapat berdiri langsung. A nation without faith cannot stand. (Pidato HUT Proklamasi 1963 dalam Serbasejarah, 2010).

Keseimbangan & Hubungan Tiga Aspek Kecerdasan
Kecerdasan spiritual menjadi sebuah hal yang wajib dibahas bila membahas tentang masyarakat Indonesia. Bangsa yang religius menjadi sebuah julukan bagi bangsa ini dari berpuluh-puluh tahun yang lalu konsep tersebut sudah terbentuk. Keseimbangan antara kecerdasan spiritual, sosial dan intelektual tentu saja harus berjalan beriringan untuk terciptanya keharmonisan dalam diri manusia. konsepYin-Yang dalam hal ini tentu saja dapat diadaptasi untuk menjaga keseimbangan kecerdasan dalam diri manusia. Konsep Yin-Yang merupakan sebuah keharmonisan anatara dua kutub dalam setiap kenyataan hidup (Emsan, 2014: 113).
Manusia yang terlalu mengandalkan intelektualnya maka dia tidak akan menyatu dengan lingkungannya, manusia yang mengandalkan sisi sosialnya tanpa spiritualnya maka akan melupakan siapa dia dan begitu juga berlaku pada manusia yang melupakan sosial dan intelektualnya. Ketiga kecerdasan ini tidaklah berlawanan tetapi saling berhubungan dan tentu saja aspek spiritual menjadi dasar utama sebagai manusia yang mempercayai dan menghayati Ketuhanan Yang Maha Esa. Aspek kecerdasan tersebut diharapkan mewujudkan hunbungan yang sempurna yaitu habluminallah dan habluminannas.

Implementasi Tiga Kecerdasan di Kurikulum 2013
Pendidikan terkadang menjadi sebuah tolak ukur suatu bangsa untuk melihat berkualitas sumber daya manusianya. Pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun berusaha untuk diperbaiki dalam segala aspek-aspek yang terkandung di dalamnya. Salah satu usaha dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia berupa kebijakan pembaruan kurikulum dari kurikulum 2006 (KTSP) menjadi kurikulum 2013. Hal yang diharapkan tentu saja perubahan yang lebih baik dan mampu membentuk karakter peserta didik dalam aspek spiritual, sosial dan intelektual.
Menurut Echols (1984) dalam Siregar & Nara (2015: 61) kurikulum secara etimologis merupakan terjemahan dari kata curriculum dalam bahasa Inggris, yang berarti rencana belajar. Kurikulum tidak asal dibuat dan dipergunakan begitu saja tetapi harus berdasarkan landasan. Landasan kurikulum yang jelas akan menghasilkan kurikulum yang berkualitas. Landasan kurikulum terdapat empat landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu: a) Filosofis/yuridis b) Psikologis c) Sosiologis dan d) Organisator.
a. Filososif/yuridis
Landasan ini berdasarkan pandangan hidup atau ideologi masyarakat dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila. Nilai-nilai Pancasila haruslah terkandung dalam kurikulum yang dirancang.
b. Psikologis
Landasan ini memikirkan keadaan dan karakteristik peserta didik yang pada umumnya berdasarkan umur peserta didik. Merumuskan kurikulum sesuai dengan jenjang sehingga peserta didik mendapat nilai bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan peserta didik tersebut.
c. Sosiologis
Landasan ini sebagai pertimbangan pengembangan kurikulum dengan melihat kondisi sosial masyarakat Indonesia yang beragam. Pendidikan haruslah memberikan kemanfaatan kepada masyarakat.
d. Organisatoris
Dalam perumusan kurikulum harus dibentuk dan disusun dengan tepat dan fungsional. Fungsional dalam kurikulum haruslah maksimal, bila tidak fungsional maka tidak bermanfaatnya kurikulum tersebut.
(Siregar & Nara, 2015: 63-64).

Kurikulum 2013 pada dasarnya dikembangkan sesuai dengan tujuan, kebutuhan dan tuntutan zaman. Kurikulum 2013 dalam pengimplemtasiannya dengan pendekatannya terdapat lima tahapan yaitu “Observing (mengamati), Questioning (menanya), Associating (menalar), Experimenting (mencoba), Creating Networking Communicating Implementating” (Kementrian Pendidikan & Kebudayaan, 2014: 17). Kecerdasan dalam kurikulum 2013 tidak hanya akademik tetapi juga sikap sosial dan spiritual. Konsep dari kurikulum 2013 adalah seimbang antara hardskill dan softskill , dimulai dari standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian (Kementrian Pendidikan & Kebudayaan, 2014: 26). Penilaian dan penguatan dalam kurikulum 2013 terdapat tiga aspek yaitu sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang terintegrasi.

Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual menjadi sebuah titik pusat dari segala kecerdasan bagi kaum muslim. Kecerdasan tersebut akan berkembang pesat dan terus berkembang bila pondasi dari kecerdasan tersebut benar serta kuat. Kecerdasan spiritual memiliki peran utama yang tidak boleh dilupakan apalagi ditinggalkan. “Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang berakar di dunia luar dalam konteks kehidupan yang lebih luas” (Zohar & Marshall, 2007: 71). Kecerdasan spiritual membawa kita berfikir lebih dalam dari yang kita fikirkan dan untuk mewujudkannya diperlukan lebih luas dari motivasi dan tujuan hidup yang paling dalam (Zohar & Marshall, 2007: 252).
Aspek spiritual dalam dunia pendidikan masuk dalam kurikulum 2013 dan terkandung dalam kompetensi inti dan dasar 1. Menandakan pendidikan di Indonesia ini berkeinginan mencetak sumber daya manusia bukan hanya cerdas dalam intelektual tetapi juga spiritual. Kecerdasan spiritual yang mengontrol pemikiran seseorang untuk tidak masuk dalam pemikiran liberal ataupun radikal. Berfikir dan memandang sesuatu dengan moderat akan tercipta bila keseimbangan itu terjada dan menjaga serta saling berhubungan.
Sejarah mengajarkan kita untuk tidak meningalkan kecerdasan spiritual kita bukan hanya bermanfaat bagi diri kita tetapi menjaga keutuhan Bangsa Indonesia. Disintegrasi yang pernah terjadi di negara ini dapat diatasi dan diredam dengan pendekatan agama, selain itu juga pendekatan sosial dan politik. Banyak tokoh nasional yang tidak hanya pintar intelektual dan sosialnya tetapi memiliki kecerdasan spiritual luar bisa misalnya sebagai contoh adalah Mohammad Hatta yang memiliki nama sewaktu kecilnya Mohammad Athar/Atta. Mohammad Hatta berasal dari keluarga yang sangat religius tidak hanya mengutamakan bidang intelektual saja dalam hal mendidik. Hal ini tercermin pada otobiografinya yang berjudul Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi “Pagi-pagi aku bersekolah, malam hari sesudah magrib aku belajar mengaji di surau Inyik Djambek” (Hatta, 2015: 30). Karakter itu tercermin sampai beliau remaja saat di Belanda dan sewaktu menjadi orang nomer dua di republik ini. Banyak lagi para tokoh Indonesia yang pandai dalam politik tetapi tidak kalah dalam bidang spiritualnya.
Pendidik haruslah mampu menyampaikan nilai-nilai spritual dan menghubungkan dengan pembelajaran yang berlangsung. Memberikan teladan sikap yang baik, menjalankan perintah agama dan tidak melanggar agama kepada peserta didik secara bertahap akan mencetak insan-insan yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kecerdasan Intelektual
Membahas tentang intelektual yang terlintas dalam pikiran adalah bangku sekolah. Sekolah menjadi sebuah hal yang akrab dengan dunia intelektual yang pada dasarnya kebanyakan dibayangkan oleh orang sebagai landasan utama. Prestasi intelektual menjadi tolak ukur seseorang cerdas dan unggul, padahal tidak selamanya kecerdasan intelektual menentukan kecerdasan mengingat manusia mahluk sosial. Kecerdasan intelektual adalah mengendalikan kecerdasan fisik melalui fungsi saraf pusat yang mengendalikan gerakan motorik tubuh, termasuk pancaindra (Yuwono, 2010: 123).
Lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat peserta didik untuk mengasah kecerdasan intelektualnya. Pendidik harus tepat dalam mengarahkan peserta didiknya untuk mendapat pengetahuan yang sesuai jenjangnya dan kemampuan peserta didik yang bersangkutan. Pada dasarnya manusia memiliki kecerdasan yang beragam dan sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak cerdas. Setiap kecerdasan tentu saja berbeda dalam pendekatan dan pengembangannya karena pada dasarnya sudah berbeda. Banyak peserta didik yang cerdas masa perguruan tinggi tetapi masa sekolah menengah pertama dan atas tidak terlihat bakatnya. Kejadian seperti ini banyak dan terjadi karena berbagai latar belakang yang berbeda. Permasalahan ini menjadi pekerjaan bagi pendidik, orang tua dan lingkungannya untuk menemukan dan mengembangkan kecerdasan peserta didik yang nantinya menjadi generasi emas. Hal tersebut tentu tidak mudah tetapi tidak mustahil terwujudkan, sejarah Indonesia mencatat generasi emas Indonesia pernah terlahir masa pergerakan nasional.
Dari kacamata historis kecerdasan intelektual memiliki andil besar dalam munculnya pergerakan nasional di Indonesia. Setelah dilaksanakanya politik etis yang memiliki tiga program salah satunya edukasi, memunculkan golongan baru yaitu kaum pelajar. Budi Utomo salah satu pergerakan nasional yang berisikan kaum pelajar dari pelajar STOVIA. Tujuan semula dari organisasi ini adalah “Dana Belajar” (Poesponegoro & Notosusanto, 2010: 335). Pemuda-pemuda dengan latar belakang pelajar yang paham baca tulis dan menguasai bahasa Belanda, akhirnya banyak membaca buku-buku berbahasa Belanda. Mucul pemahaman tentang kolonialisme dan imperialisme yang ternyata merugikan Bangsa Indonesia. Pemahaman itu semakin berkembang dan berusaha mencari lawan dari kolonialisme dan imperialisme yaitu nasionalisme. Semenjak itulah semangat nasionalisme di kobarkan dalam jiwa para pemuda untuk mencari kemerdekaan. Sejarah mengajarkan kita banyak hal termasuk melawan penjajah dengan intelektual seperti yang dilakukan Mohammad Hatta memilih jalan diplomasi dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kecerdasan Sosial
Kecerdasan sosial leluhur bangsa Indonesia tidak bisa diragukan lagi. Sikap sosial yang tinggi membuat keberagaman suku, budaya dan agama tidak menjadi permasalahan yang besar. Rasa simpati bahkan empati muncul secara tidak disadari pada karakter masyarakat Nusantara yang terbentuk oleh budaya gotong-royong. Kecerdasan sosial adalah merupakan kemampuan dan ketrampilan seorang dalam menempatkan dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak dalam keadaan saling diuntungkan (Darmawan, 2009: 35).
Nilai sosial juga terkandung dalam sila ke lima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam sila kelima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan negara yaitu hidup bersama dan tercipta sebuah keadilan (Kaelan & Zubaidi, 2012: 36). Kebersamaan dan kesatuan dalam masyarakat Indonesia sudah tercipta jauh sebelum negeri ini merdeka, konsep tersebut terbentuk pada masa kerjaan Majapahit yaitu Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa. Konsep Bhineka Tunggal Ika diambil dan dicantumkan pada lambang negara yang dicengram oleh kaki burung Garuda. Hal ini mengambarkan bahwa masyarakat Nusantara sudah mampu menciptakan sebuah kedamaian, kebersamaan dan kesatuan dalam bermasyarakat ataupun bernegara tanpa mempermasalahkan suku, budaya dan agama.
Perwujudan kecerdasan sosial dalam pendidikan harus diciptakan untuk memberi keseimbangan selain kecerdasan spiritual dan akademik. Ikatan sosial yang kuat nantinya akan membentuk pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas menjadi hidup. Rasa saling menghormati, menghargai dan saling membantu akan terjalin antara pendidik dengan peserta didik dan sesama peserta didik.

Penutup
Menanamkan tiga aspek kecerdasan dalam peserta didik tidaklah mudah tetapi juga tidaklah mustahil dilakukan bila ada usaha dari berbagai unsur untuk mencetak generasi emas Indonesia. Keinginan dari Universitas Negeri Malang dalam seminar nasional bertema Prospestik Guru Profesional Menyongsong Generasi Emas 2045 yang bertujuan mencetak guru profesional yang akan menciptakan kualitas pendidikan yang tinggi. Tenaga guru yang baik tentu saja tidak sulit untuk menanamkan tiga aspek kecerdasan yang akan mewujudkan cita-cita pendiri bangsa ini.
Harapan semua kalangan masyarakat tentu saja bangsa ini mampu berbicara banyak di dunia internasional dengan ilmu pengetahuannya yang dilandasi spiritual dan rasa kebersamaan yang kuat. “Barangsiapa yang ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam” (Ir.Soekarno).

Daftar Pustaka
Darmawan, Indra. 2009. Kiat Jitu Taklukan Psikotes. Jakarta: PT. Buku Kita
Emsan. 2014. Filososi-filosofi Warisan Tiongkok Kuno. Yogyakarta: Laksana
Hatta, Mohammad. 2015. Bukitinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Jakarta: Kompas
Kaelan & Zubaidi, A. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013, (Online), (kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/Paparan/Paparan%20Wamendik.pdf), diakses 8 Agustus 2016.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V: Zaman Kebangkitan Nasionaldan Masa Hindia Belanda. Jakarta: Balai Pustaka.
Serbasejarah. 2010. Kata Mutiara Bung Karno, (Online), (http://serbasejarah.files.wordpress.com/2010/01/kata-mutiara-bung-karno.pdf), diakses 6 Agustus 2016.
Siregar, Eveline & Nara, Hartini. 2015. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia
Solehan. 2010. TA’DIB. Konsepsi Panca Dharma KI Hajar Dewantara ditinjau dari Sudut Pandang Pendidikan Islam, XV(I), (Online), dalam E-journal UIN Raden Fatah (jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tadib/article./download/66/61), diakses 8 Agustus 2016.
Yuwono, Budi. 2010. SQ Reformation: Rahasia Pribadi Cerdas Spritual “Genius Hakiki”. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Zohar, Danah & Marshall, Ian. 2007. SQ: Kecerdasan Spiritual. Bandung: PT. Mirzan Pustaka

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY