Makam Buyut Kentjana

0
576

MAKAM BUYUT KENTJANA

Ada disebelah lorwetan kota Bojonegoro ditepi bengawan sebelah lorwetan gunungnya kecil, ikut wilayah desa Banjarsari, disitu ada makamnya Buyut Kentjana.

Diceritakan yang dimakamkan disitu adalah putra-putra Pajang yang keluar kerajaan tanpa izin, bernama Buyut Kentjana, Buyut Iropati, dan Buyut Sungging, kelaurnya dari Pajang dengan membawa isteri dan anak kemudian menetap didesa Banjarsari, merupakan cakal bakal disitu, sampai wafatnya dimakamkan di Buyut Kentjana berderet-deret sembilan makam, oleh karena itu makam tersebut dinamakan Buyut Sanga (sembilan).

Setiap tahun makam tersebut dipuji-puji oleh penduduk desa Banjarsari diminta sawabnya dan do’a selamat. Adapun makamnya Buyut Iropati dipergunakan untuk tempat “sadranan” penduduk yang menjalankan perahu atau getek.

Pada waktu Buyut Iropati masih hidup, ada cerita sebagai berikut :

Pada suatu hari, isteri Buyut Iropati pergi ke bengawan solo bersama puteranya dan membawa beras akan dipususi (dicuci). Ketika Nyai Iroapti mususi, tiba-tiba ada buaya yang menyerang, Nyai Iropati dibawa lari kedalam air.

Putera Nyai Iropati segera pulang, dan mengadu kepada ayahnya dengan menangis, menceritakan bahwa ibunya dibawa lari kedalam air oleh seekor buaya.

Buyut Iropati langsung lari ke sungai, ambyur kedalam bengawan kemudian kelihatan buaya lari ke Kedung Depis Desa Sima. Buyut Iropati mengikuti jalannya buaya, sampai di Kedung Depis tadi, disitu ketemu rajanya buaya, lalu bilang

“hai rajanya buaya datangku kemari untuk meminta ayam betina putih saya yang dibawa anakmu kemarin”.

Maka Buyut Iropati berkata demikian, sebab perasaannya, yang sama kelihatan dimukanya berupa umat manusia, hanya ada yang ajaib satu, ialah ayam putih yang ada didalam kurungan susug.

Rajanya buaya : “apakah ini ayam paduka yang dibawa teman sya?”

Buyut Iropati : “benar itu ayamku yang dicuri orangmu”.

Rajanya buaya : “kalau ini ayam paduka, silahkan diambil!”

Buyut Iropati : “saya minta orangmu yang telah berani mencuri ayamku, sebab dia sudah membuat saya susah dan malu dan saya minta supaya dia diberi hukuman”.

Rajanya buaya : “saya tidak dapat memberi hukuman, saya hanya menyerahkan kehendakmu saja”.

Buyut Iropati : “kalau memang demikian saya minta diri akan mengembalikan ayamku ini dahulu nanti sebentat lagi aku akan kembali, menghukum orangmu buaya yang berdosa itu”.

Rajanya buaya : “ya terserah kehendak paduka”

Buyut Iropati lalu keluar dari air bengawan dengan membawa ayam putih, akhirnya ayam putih tadi berubah menjadi isteri Buyut Iropati.

Setelah Buyut Iropati membawa pulang isterinya lalu kembali ke kedung Depis lagi, dengan membawa tali ijuk berkeinginan akan menghukum buaya yang telah berani menyarap isterinya.

Kemudian Buyut Iropati bertemu buaya tersebut dan diikat dengan ijuk lehernya lalu dinaiki serta dipukuli, sambatnya belas kasihan tetapi tidak dihiraukan oleh Buyut Iropati.

Buaya dinaiki dan dipukuli sampai didesa Banjarsari Ngrayudan, disitu buaya ditarik kedarat dan diperintahkan kepada putera dan cucunya untuk memukuli.

Buaya sangat menderita kesakitan lalu berkata :

“Buyut Iropati, saya telah bertaubat, saya dan turun-turun (keturunan) tidak akan mengganggu paduka dan temurun paduka bahkan saya sanggup menjaga apabila ada turun padukan ada yang mendapat kecelakaan di air. Tetapi ijinkan saya bilang dikemudian hari kalau saya melihatkan diri ditepi bengawan, karena ada teman saya yang mencuri makanan”.

Setelah buaya bertaubat kemudian dilepaskan.

Sampai sekarang orang di Desa Banjarsari tak suka mandi ditepi bengawan solo karena  apabila keluar dari tempat bekas buaya ditarik kedarat dari cerita orang-orang lehernya akan kelihatan hitam.

 

Oleh : Radita D. Stitaningrum,

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY