Kelemahanmu Menantangku Anakku

0
560

Menjadi guru adalah pekerjaan yang menyenangkan menurut saya, hingga 12 tahun sudah saya terkecimpung didalamnya. Mulai mengajar di SDN Sambongrejo 1 Kecamatan Sumberrejo, pembina Pramuka di SMP Negeri 3 Sumberrejo, ngajar di MI Muhammadiyah 18 Sumberrejo. Tentu banyak sekali pengalaman saya menghadapi murid yang berbeda latar belakang keluarga, status sosial, usia, dan beragam kebiasaan yang dilakukan anak.

Barangkali sudah biasa ketika saya bercerita tentang anak didik yang berprestasi, mulai jago pidato, pinter ngaji,  juara futsal, juara olimpiade dan berbagai macam prestasi lainnya, bukan hanya senang tapi juga bangga ketika seorang guru melihat kesuksesan muridnya. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan disini, bahkan lebih dari sekedar prestasi.

Cerita yang sangat menantang kemampuan saya. Ya, salah satu murid saya yang memiliki kebutuhan khusus, sebut saja namanya Budi (bukan nama sebenarnya loh, dari pada nama itu dihapus dalam kurikulum 2013 jadi saya pinjam sebentar disini ya..)

Budi tidak bisa mengucap kata dengan sempurna, barangkali ada kelainan di pendengarannya, sudah dari lahir begitu, orang tua Budi juga sudah mengantarnya berobat dimana mana tapi sama sekali tak membuahkan hasil.

Dari pihak sekolah sebenarnya sudah menyarankan untuk belajar di SLB tapi karena orang tua bekerja di Jakarta, Budi hanya tinggal bersama kakek dan neneknya, meski orang tua juga sering pulang untuk mendampingi putra semata wayangnya.

Singkat cerita, ketika itu saya mengajar Bahasa Inggris di Kelas 1 beberapa tahun lalu, karena ngajar anak kelas rendah saya lebih banyak mengajaknya bernyanyi dan permainan sekedar memancing mereka untuk mengaplikasikan diri dalam pelajaran.

Nah, ketika itu materinya adalah warna, biar anak mudah menghapal saya buat lagu balonku ada lima, liriknya begini niih..

Brown coklat, Red merah,

Black hitam, Green hijau,

Yellow kuning, White putih,

Blue biru, Purple ungu

Ada gerakannya loh, kaki melangkah kekanan kekiri, tepuk tepuk gitu. Hemmm..buat anak anak itu hal yang sangat menyenangkan, terkadang ada juga yang jahil nginjak kaki temennya..hehehe (tapi gak sampe nangis kok).

Setelah diulang beberapa kali, sekiranya satu dua anak sudah hafal saya bertanya “adakah anak-anak yang mau nemeni bu guru nyanyi di depan?” Sontak semua menjawab “saya bu guru, saya bu guru”. Wah karena semua angkat tangan biar adil semua boleh maju untuk menemani saya.

Mereka pun maju satu persatu, ternyata Budi tidak mau kalah (pada dasarnya anak ini juga lumayan bisa untuk semua materi pelajaran dan bisa tampil percaya diri). Karena saya memilih secara acak, Budi maju menggandeng tangan saya sambil mengangkat jari telunjuknya yang artinya dia mau maju, saya sempat bingung bagaimana saya memintanya bernyanyi sementara bicaranya tidak sempurna dan air liurnya selalu keluar sehingga kemana mana pasti bawa sapu tangan, bahkan saya merasa kasihan jika ditertawakan teman temannya. Tapi saya fikir, dia saja yakin bisa kenapa saya yang ragu? Akhirnya majulah dia dan dia pun bernyanyi, karena tidak mungkin dia menyanyi sendiri akhirnya saya yang nyanyi, dia ikut langkah dan tepuknya saja (mesti tidak jelas bahasanya tapi sepertinya diapun berusaha bernyanyi )

Setelah selesai, saya langsung memberinya motivasi agar selalu percaya diri “hemm….Budi, kamu anak yang luar biasa, lain kali ibu ditemani lagi ya nak?” Dia pun menganggukkan kepala.

Agar saya yakin materi benar benar bisa difahami anak, sebelum pulang saya buat kuis. Anak-anak menebak jika saya ucap dengan bahasa inggris mereka menebak jawaban dengan bahasa indonesia begitu pula sebaliknya. Aturannya mengangkat tangan terlebih dahulu, Budi pun angkat tangan, jika yang lain cukup menjawab secara lisan, khusus Budi ini saya kasih kapur untuk ditulis dipapan tulis dan jawabannya pun tidak salah.

Ternyata jika kita mampu membuat mereka senang apapun yang kita inginkan mereka akan mengikuti, bahkan kadang sebelum diminta pun mereka selalu siap. Tapi bukan hal mudah membuat mereka senang, karena tiap anak beragam keinginan dan kemampuan, jadi itulah sebabnya mengapa guru harus kreativ dan innovatif.

Semoga kita bisa menjadi guru yang disenangi, bukan ditakuti muridnya. Semoga sukses untuk guru dan selamat berkarya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY