Jelu Pada Tempo Doeloe

0
617

Jelu Pada Tempo Doeloe

Jelu. Desa mungil ini terletak di Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Dulunya desa ini merupakan bagian dari Desa wotangare tepatnya di kecamatan Kalitidu.

Namun dengan berjalanya waktu semua sudah berbeda, jelu memilih memisahkan diri dan membentuk Desa baru yang kalian kenal dengan nama Desa Jelu ini. Soal pemisahan dari Desa Wotangare alasanya apa saya juga kurang tau. Yang jelas jelu sudah memisahkan diri dari wotangare sudah lama sekali.

Kalau menurut pendapat saya, Desa jelu memisahkan diri dari wotangare karena dirasa sudah memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak yakni lebih dari 3.000 jiwa serta adanya cakupan wilayah Desa yang dibentuk.

Untuk batasan wilayahnya sendiri, sebelah timur Desa Wadang, selatan Desa Bareng, barat Kecamatan Gayam dan sebelah utara ada Desa Jampet.

Mungkin kalian bertanya-tanya tentang sejarah Desa Jelu ini dibentuk, dan asal usul kata ini dijadikan nama untuk Desa saya, serta kenapa harus dengan nama jelu.

Konon menurut cerita dan dongeng yang berkembang di masyarakat dan tokoh Desa setempat, asal usul Desa Jelu di mulai dari Tokoh Pewayangan yaitu Arjuno/Janoko (Salah satu tokoh dari Pandowo Limo). Yang mana tokoh pandowo limo tersebut mengembara dan sampailah di Desa tersebut, yang saat ini dikenal dengan nama Desa jelu.

Arjuno selaku salah satu tokoh dari pandowo limo mendengar keluhan dan cerita dari masyarakat setempat, tentang kehadiran sekaligus kehidupan raksasa yang bernama Buto Ringgani. Dimana buto ini sering membuat onar dan membuat takut warga yang tinggal di Desa tersebut.

Mendengar keluhan seperti itu yang selalu membuat resah masyarakat, akhirnya para pandawa sepakat untuk membantu melenyapkan Buto Ringgani dari kehidupan masyarakat agar masyarakat bisa hidup tenang. Maka diutuslah Sang Arjuno/Janoko untuk melenyapkan buto tersebut.

Sesampainya Arjuno di Desa. Terjadilah perang yang sangat sengit antara sang Arjuno dengan Buto Ringgani, dimana keduanya berperang dengan hebatnya saling mencoba membunuh satu sama lain dengan kekuatanya masing-masing.

Tetapi Buto Ringgani tidak berhasil menandingi kekuatan dari Arjuno dan mencoba lari menjauh dari Arjuno. Namun Arjuno tidak ingin melepaskan Buto Ringgani lari begitu saja apalagi lolos darinya.

Dikeluarkanlah senjata berupa panah sakti mandraguna dan di bidiknya tepat mengenai perut Buto Ringgani yang sedang berlari. Meskipun perut Buto Ringgani tertembus panah, Buto tersebut belum mati bahkan masih kuat untuk berlari menuju keutara sambil memegangi perutnya yang terkena panah.

Tak ingin musuhnya lepas, Arjuno terus mengejar sang Buto tersebut sampai di suatu daerah yang sekarang kita kenal dengan Dusun Ndowo, dari Ndowo kemudian Buto berlari ke arah utara lagi sampai pada suatu tempat, dia beranggapan bahwa sudah tidak ada yang mengejarnya lagi.

Sang Buto berusaha untuk berdiri tegak (istilah jawa Ngadek Jejeg) sehingga daerah tersebut sekarang dikenal dengan Dusun Prajekan yang merupakan bagian dari Desa Jelu.

Buto lalu berlari menuju barat, baru beberapa langkah Buto Ringgani merasa tubuhnya sudah lemas, karena berjalan saja sudah jatuh bangun (istilah Jawanya Penjola-Penjulu) sehingga tempat tersebut dinamakan DESA JELU yang saat ini menjadi tempat tinggal saya.

Dari Jelu berjalan lagi dengan teratih-tatih menuju utara sampai di suatu tempat cincin emasnya jatuh dan hilang, daerah tersebut sekarang dikenal dengan nama Kedungmas.

Dari Kedungmas dia berjalan menuju timur laut, sampai pada suatu tempat lutut/gandunya putus, tempat lutut/gandunya buto tersebut dinamakan Sendang Gandu yang sekarang sudah masuk ke wilayah Desa Kalitidu.

Meskipun sudah putus gandunya, karena sakti Buto Ringgani masih bisa berjalan menuju selatan, sampai pada suatu tempat dia mengambil tanah sekepal (dalam istilah jawa disebut sak gruwekan) untuk menambal/ dempul perutnya yang sobek terkena panah, sekarang daerah tersebut di kenal dengan nama Desa Dempul yang masuk Desa Wotangare.

Dari Dusun Depul berjalan lagi ke selatan, namun ketika sampai di suatu tempat, dia merasa tubuhnya sangat lemah, tenaganya habis, sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Matanya mulai merem melek (istilah jawanya byar pet) dan tak beberapa lama Buto Ringgani menemui ajalnya di tempat tersebut, yang sekarang dikenal dengan Desa Jampet.

Setelah ambruk tubuh buto tersebut membujur ke arah selatan, tempat kepalanya sekarang menjadi sumber mata air yang bernama Sendang Patak Buto. Sedangkan lehernya atau gulunya menjadi mata air Sendang Nggulun yang berada di Desa Jelu yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik sendangnya.

Itulah sedikit sejarah tentang asal mula nama jelu dibentuk dan asal mula Desa-desa disekitar Jelu.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY